PDM Kabupaten Lamongan - Persyarikatan Muhammadiyah

 PDM Kabupaten Lamongan
.: Home > Artikel

Homepage

Membangun Generasi Tauhid

.: Home > Artikel > PDM
12 Januari 2016 12:00 WIB
Dibaca: 1395
Penulis : Abdullah Masmuh

 

MEMBANGUN “GENERASI TAUHID” SEBAGAI PERISAI DARI MALAPETAKA DAN KEHANCURAN [1]

 

Kaum Muslimin yang InsyaAllah dimuliakan Allah SWT, mari kita senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT dan bersyukur atas nikmat-Nya dengan datangnya Hari Raya ‘Idul Fitri yang penuh berkah ini. Sudah puluhan lebaran ‘Idul Fitri kita lewati, sebanyak bilangan Ramadhan yang kita alami. Lebaran merupakan putaran (siklus) waktu yang setiap saat tertentu datang. Karena adanya sifat siklus itu maka hari raya di sebut ‘Id, yang artinya “ulangan” atau “putaran”, selalu datang dan kembali berulang kali. Tetapi, hari raya Islam yang amat penting dinamakan ‘Id bukan semata-mata karena dia berulang-ulang dirayakan dengan gegap gempitanya pakaian baru dan makanan yang dihidangkan. Kita tahu bahwa nama lengkapnya ‘Idul Fitri, dan yang patut kita perhatikan dan renungkan adalah makna perkataan “Fitri” atau “Fitrah”(Fithr), yang artinya “suci dan bersih”.

Jadi inti dari “Idul Fitri adalah bersihkan diri kita dari dosa-dosa kepada Allah swt dengan menjalankan ibadah puasa satu bulan dengan sepenuh hati dan setulus jiwa (imanan wa ihtisaban), dengan mengharap rahmat dan ridla Allah SWT agar mendapatkan ampunan dari dosa-dosa yang telah kita perbuat, sehingga semuanya habis tuntas (lebar) dan kitapun berlebaran. Kemudian kita lengkapi dengan bersilaturrahim, berkunjung ke keluarga, ke-tetangga, ke-handai taulan, saling bermaaf-maafan lahir dan bathin, seraya mengucap ja’alana Allahu min al-‘a’idin wa al-faizin wa al-maqbulin (semoga Allah menjadikan kita semua kembali ke fitrah dan menang melawan dosa kita sendiri, serta diterima amal ibadah kita). Saat itulah kita berada dalam fitrah diri yang harus dijaganya hingga akhir zaman.

Di pagi hari yang mulia ini merupakan hari penting dan patut berbangga diri bagi ummat Islam di seluruh penjuru dunia, karena diberi kemenangan oleh Allah SWT yakni mampu menyelesaikan ibadah puasa satu bulan penuh dengan segala amalannya. Betapa bangganya ribuan bahkan jutaan ummat Islam pada hari yang penuh berkah ini, berduyun-duyun mendatangi lapangan dan masjid-masjid untuk menunaikan sholat ‘Idul Fitri, dengan rasa bahagia, bersatu berkumpul dan berbaris dalam satu shaf mengumandangkan seruan takbir, tahlil dan tahmid:  Allahu akbar, Allahu akbar laa ilaaha illallah huwallahu akbar, Allahu akbar walillaahil hamd.

Gemuruh kumandang takbir, tahlil, dan tahmid hari ini menggambarkan bahwa  adanya pengakuan umat Islam akan keagungan Allah dan kemahabesaran-Nya, tidak ada sesuatu yang patut disembah dan tidak ada sesuatu yang layak dimintai pertolongan selain Allah semata, serta yang patut mendapatkan pujian hanya Allah semata. Suasana semacam ini seperti kita berada di alam spiritualis  puncak yang membawa kepada ketenangan jiwa. Namun yang menjadi pertanyaan sekarang, bagaimana dengan generasi mudanya, generasi penerus yang nanti menjadi pengganti generasi tua? Menjadi kenyataan yang tak terbantahkan oleh siapapun saat ini generasi muda secara umum yang menjadi tumpuhan harapan orang tua, bangsa, dan Negara jauh dari dambaan. Yakni ada gejala dekadensi moral (kemerosotan moral) yang dialami oleh generasi muda.

Sebagai bukti kemerosotan moral generasi muda saat ini antara lain: (1) Pecandu narkoba. Pada tahun 2002, sebanyak 85% pemakai narkoba di Indonesia mencapai 6,5 juta orang generasi muda. Sekitar 50% berstatus mahasiswa atau terpelajar. Pada tahun 2004 naik hingga 39,36% atau meningkat 1.338 kasus (Kompas, 15 Februari 2005). (2) Perilaku seks bebas. Di kabupaten Bandung melakukan seks bebas antara 38.288 hingga 53.603 remaja (Pikiran Rakyat Bandung, 29 Juli 2004). Hasil polling juga diketahui, dari 200 remaja yang melakukan seks bebas, 50% remaja hamil dan sebanyak 90 remaja dari 100 remaja yang hamil melakukan oborsi (pengguguran anak). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Iip Wijayanto juga menyimpulkan, ada 97,05% mahasiswi di sebuah kota pendidikan ternama di Indonesia sudah kehilangan keperawannya selama kuliah.  (3) Penderita HIV/AIDS. Di Jawa Barat pada tahun 2003 ada 848 kasus, 65% berusia 20-29 tahun. (4) Tawuran. Pada tahun 2000 ada 197 kasus dengan 28 orang tewas. Pada tahun 2001 ada 123 kasus dengan 23 orang tewas. (5) Putus sekolah. Pada tahun 2004 ada 12,7 juta orang. (6) Bunuh diri. Bunuh diri di kalangan generasi muda menjadi tren tersendiri di beberapa kota. Data-data ini hendaknya menjadi bahan renungan bersama, jika tidak ingin tertimpa malapetaka “The Lose Generation” (generasi yang hilang), sehingga menjadi kehancuran bagi umat manusia. Atas dasar inilah khotib membuat judul khutbah “Membangun Generasi Tauhid Sebagai Perisai dari Malapetaka dan Kehancuran

“Generasi yang Hilang”: Sebuah Ancaman

Adalah menjadi tanggungjawab kita bersama untuk menyelamatkan generasi muda dari hempasan dan goncangan badai yang membuat hancurnya moral pemuda. Banyak faktor yang menyebabkan dekadensi moral (kemerosotan moral) di kalangan generasi muda, diantaranya: (a) Sistem pendidikan yang sekuler dan materialistik, (b) Perkembangan teknologi yang takterbendungkan lagi, (c) Kurangnya perhatian orang tua pada pergaulan anak, (d) Lemahnya kualitas keimanan terhadap aqidah Islam, (e) Rapuhnya benteng moral atas budaya barat, dan (f) Hedonisme menjadi pilihan hidup. Oleh sebab itu, pemimpin (umarak), ulamak, orang tua, guru, dan lembaga-lembaga sosial, bahkan generasi pemuda sendiri harus bersinergi untuk menyelamatkan dari faktor-faktor yang bisa merusak moral pemuda. Jika tidak, bayang-bayang menakutkan “the lose generation” (generasi yang hilang) akan menjadi kenyataan dan mengancam kehidupan kita.

Kita tentu tidak menginginkan terjadinya “generasi yang hilang” (the lose generation), karena bagaimanapun “generasi yang hilang” akan menjadi sebuah ancaman dan membawa kehancuran dan kesesatan, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Q.S. Maryam ayat 59:

* y#n=sƒmú .`ÏB öNÏdω÷èt/ ì#ù=yz (#qãã$|Êr& no4qn=¢Á9$#(#qãèt7¨?$#ur ÏNºuqpk¤9$# ( t$öq|¡sù tböqs)ù=tƒ $†‹xî ÇÎÒÈ

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan”.

Ayat ini memberikan peringatan keras bagi kita umat Islam untuk waspada dan menjaga agar tidak lahir generasi yang buruk. Generasi yang buruk itu memiliki dua karakter utama (sebagaimana dalam ayat diatas), yakni: generasi yang menyia-nyiakan sholat no4qn=¢Á9$(#qãã$|Êr&) dan generasi yang mengumbar hawa nafsu (ÏNºuqpk¤9$# (#qãèt7¨?$#ur) .

Jika ada generasi yang menyia-nyiakan sholat maka suatu tanda kehancuran dan malapetaka akan tiba. Karena mereka tidak lagi meyakini bahwa sholat itu sebagai syariat tetapi hanya diyakini sebagai kebutuhan semata. Saat mereka butuh baru sholat, saat tidak butuh maka mereka tinggalkan sholat. Padahal sholat itu merupakan tiang agama dan menjadi amalan yang nomor satu dihisab pada hari kiamat. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah sholat, jika ia (shalatnya baik), maka baik pula seluruh amalannya jika jelek sholatnya maka jelek pulalah seluruh amalannya (HR. At-Tirmidzi). Jalaslah bagi kita, bahwa jika generasi menyia-nyiakan shalat maka tidak memiliki benteng perbuatan keji dan mungkar. Artinya, generasi muda sangat rentan dengan pengaruh luar yang bisa membentuk karakter kepribadian yang jauh dari harapan orang tua dan masyarakat. Padahal, generasi muda sebagai harapan yang bisa menggantikan posisi strategis dalam menata kehidupan yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Ketahuilah bahwa shalat sesungguhnya bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Allah SWT berfirman dalam Al-qur’an Surat Al-Ankabut ayat 45 yang berbunyi:

ã@ø?$# !$tB zÓÇrré& y7ø‹s9Î) šÆÏB É=»tGÅ3ø9$# ÉOÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# ( žcÎ) no4qn=¢Á9$# 4‘sS÷Zs? ÇÆtã Ïä!$t±ósxÿø9$#̍s3ZßJø9$#ur 3 ãø.Ï%s!ur «!$# çŽt9ò2r& 3 ª!$#ur ÞOn=÷ètƒ $tBtbqãèoYóÁs? ÇÍÎÈ

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Memang shalat itu berat, tetapi bisa sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Allah memohon petunjuk atas segala problematika hidup di dunia. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al-baqarah ayat 45 dan 153 yang berbunyi:

(#qãZŠÏètFó™$#ur ÎŽö9¢Á9$$Î/ Ío4qn=¢Á9$#ur 4 $pk¨XÎ)ur îouŽÎ7s3s9žwÎ) ’n?tã tûüÏèϱ»sƒø:$# ÇÍÎÈ

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,”

$yg•ƒr¯»tƒ z`ƒÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qãY‹ÏètGó™$# ÎŽö9¢Á9$$Î/ Ío4qn=¢Á9$#ur 4 ¨bÎ) ©!$# yìtB tûïΎÉ9»¢Á9$# ÇÊÎÌÈ

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Sungguh malang nian orang-orang yang tidak shalat, karena meraka akan dikutuk oleh Allah dan dijauhkan dari rahmat di bumi dan di langit-Nya. Na’udzubillah.

Demikian juga, jika ada generasi yang mengumbar hawa nafsunya maka suatu tanda kehancuran dan malapetaka akan tiba di muka bumi ini.  Karena segala sesuatu yang nampak hanyalah kesenangan yang menipu dan memperdaya dirinya, tetapi sayang mereka tidak mengetahuinya. Mereka akan menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginannya. Mereka tidak lagi mampu menfilter, bahkan mereka “buta” untuk memilih mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang halal dan mana yang haram. Seolah-olah di dunia ini hanyalah mereka yang paling benar dan berkuasa, peduli amat orang lain. Kekuasaan telah menyelimuti hati mereka. Dan yang paling menyedihkan, generasi muda yang berkarakter demikian tidak mau instrospeksi diri, apalagi diingatkan orang lain. Inilah yang disebut bahwa hawa nafsu merupakan faktor yang menghalangi hati untuk sampai kepada Allah SWT. Mereka akan bertindak sekehendak hati tanpa menghitung resiko yang bakal terjadi. Mereka telah takluk dan tunduk di bawah perintah hawa nafsunya, berarti mereka telah gagal dan hancur. Allah SWT berfirman dalam surat An-Nazi’at ayat 37 sampai 41 yang berbunyi:

$¨Brsù `tB 4ÓxösÛ ÇÌÐÈ trO#uäur no4quŠptø:$# $u‹÷R‘‰9$# ÇÌÑȨbÎ*sù tLìÅspgø:$# }‘Ïd 3“urùyJø9$# ÇÌÒÈ $¨Br&ur ô`tB t$%s{tP$s)tB ¾ÏmÎn/u‘ ‘ygtRur }§øÿ¨Z9$# Ç`tã 3“uqolù;$# ÇÍÉÈ ¨bÎ*sùsp¨Ypgø:$# }‘Ïd 3“urùyJø9$# ÇÍÊÈ

“Adapun orang yang melampaui batas (37), dan lebih mengutamakan kehidupan dunia (38), Maka Sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya) (39). dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya (40), Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya) (41).”

Membangun “Generasin Tauhid”: Sebuah Solusi 

Sudah saatnya kita umat Islam bangkit untuk menyelamatkan generasi muda dari cengkeraman indahnya dunia yang menipu dan memperdayakan, sehingga melahirkan generasi-generasi yang unggul, berdaya, cerdas, beradap, menguasai ilmu dan teknologi, menjunjung tinggi nilai-nilai Islam, dan  sebagai individu shaleh yang mampu menjawab tantangan perkembangan zaman dengan solusi yang diberikan Islam. Inilah yang saya sebut sebagai “generasi tauhid”. Pertanyaannya, bagaimana cara membangun “generasi tauhid” agar terhindar dari malapetaka dan kehancuran?

“Generasi tauhid” merupakan generasi yang memiliki keimanan kuat terhadap aqidah Islam, dan aqidah Islam tersebut dijadikan sebagai landasan dan standar satu-satunya dalam berfikir dan bersikap. Selain itu, “generasi tauhid” juga memiki gaya hidup yang khas, segala aktivitasnya didasarkan pada aqidah Islam. Mereka yakin bahwa hanya Islam yang dapat menyelamatkan kehidupan manusia di dunia dan di akherat. Sehingga ketika mereka melihat kenyataan yang berbeda dan bertentangan dengan aqidah Islam, akan menjadi tantangan bagi mereka untuk mengubahnya. Secara proaktif “generasi tauhid” akan terus-menerus melakukan perubahan di masyarakat menuju kehidupan yang Islami. “Generasi tauhid” akan berusaha semaksimal mungkin menjadi teladan dan motor perjuangan Islam yang nyata di tengah masyarakat, sehingga menjadi solusi sekaligus perisai dari kehancuran.

Banyak teladan yang bisa kita jadikan tuntunan dalam membangun “generasi tauhid”, yaitu mengikuti jejak Rasulullah Muhammad SAW dalam mempersiapkan generasi yang akan datang. Seperti yang dikisahkan dalam Al-qur’an bahwa para Nabi pun ternyata mempersiapkan peralihan generasi ini sebaik-baiknya. Dalam Surat Al-baqarah ayat 132 dan 133 Allah SWT berfirman yang berbunyi:

4Ӝ»urur !$pkÍ5 ÞO¿Ïdºtö/Î) Ïm‹Ï^t/ Ü>qà)÷ètƒur ¢ÓÍ_t6»tƒ ¨bÎ) ©!$#4’ssÜô¹$# ãNä3s9 tûïÏe$!$# Ÿxsù £`è?qßJs? žwÎ) OçFRr&ur tbqßJÎ=ó¡•BÇÊÌËÈ ÷Pr& öNçGYä. uä!#y‰pkà­ øŒÎ) uŽ|Øym z>qà)÷ètƒ ßNöqyJø9$# øŒÎ)tA$s% Ïm‹Ï^t7Ï9 $tB tbr߉ç7÷ès? .`ÏB “ω÷èt/ (#qä9$s% ß‰ç7÷ètRy7yg»s9Î) tm»s9Î)ur y7ͬ!$t/#uä zO¿Ïdºtö/Î) Ÿ@ŠÏè»yJó™Î)urt,»ysó™Î)ur $Yg»s9Î) #Y‰Ïnºur ß`øtwUur ¼ã&s! tbqßJÎ=ó¡ãB ÇÊÌÌÈ

“dan Ibrahim telah Mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam” (132).”

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya” (133).”

Sejalan dengan ayat itu, dalam surat Luqman ayat 13 sampai dengan 19 juga memberikan pelajaran bagi kita untuk membangun “generasi tauhid”, Allah SWT berfirman yang berbunyi:

øŒÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏètƒ ¢Óo_ç6»tƒ Ÿwõ8Ύô³è@ «!$$Î/ ( žcÎ) x8÷ŽÅe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOŠÏàtã ÇÊÌÈ $uZøŠ¢¹ururz`»|¡SM}$# Ïm÷ƒy‰Ï9ºuqÎ/ çm÷Fn=uHxq ¼çm•Bé& $·Z÷dur 4’n?tã9`÷dur ¼çmè=»|ÁÏùur ’Îû Èû÷ütB%tæ Èbr& öà6ô©$# ’Í<y7÷ƒy‰Ï9ºuqÎ9ur ¥’n<Î) çŽÅÁyJø9$# ÇÊÍÈ bÎ)ur š‚#y‰yg»y_ #’n?tã br& š‚͍ô±è@ ’Î1 $tB }§øŠs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ ÖNù=Ï栟xsù $yJßg÷èÏÜè? ($yJßgö6Ïm$|¹ur ’Îû $u‹÷R‘‰9$# $]ùrã÷ètB ( ôìÎ7¨?$#ur Ÿ@‹Î6y™ ô`tBz>$tRr& ¥’n<Î) 4 ¢OèO ¥’n<Î) öNä3ãèÅ_ötB Nà6ã¥Îm;tRésù $yJÎ/óOçFZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÎÈ ¢Óo_ç6»tƒ !$pk¨XÎ) bÎ) à7s? tA$s)÷WÏB7p¬6ym ô`ÏiB 5AyŠöyz `ä3tFsù ’Îû >ot÷‚|¹ ÷rr& ’Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÷rr&’Îû ÇÚö‘F{$# ÏNùtƒ $pkÍ5 ª!$# 4 ¨bÎ) ©!$# ì#‹ÏÜs9 ×ŽÎ7yz ÇÊÏÈ¢Óo_ç6»tƒ ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# öãBù&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/tm÷R$#ur Ç`tã Ìs3ZßJø9$# ÷ŽÉ9ô¹$#ur 4’n?tã !$tB y7t/$|¹r& ( ¨bÎ)y7Ï9ºsŒ ô`ÏB ÇP÷“tã Í‘qãBW{$# ÇÊÐÈ Ÿwur öÏiè|Áè? š‚£‰s{ Ä¨$¨Z=Ï9 ŸwurÄ·ôJs? ’Îû ÇÚö‘F{$# $·mttB ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ït䆠¨@ä. 5A$tFøƒèC 9‘qã‚sùÇÊÑÈ ô‰ÅÁø%$#ur ’Îû šÍ‹ô±tB ôÙàÒøî$#ur `ÏB y7Ï?öq|¹ 4 ¨bÎ) ts3Rr&ÏNºuqô¹F{$# ßNöq|Ás9 ÎŽÏJptø:$# ÇÊÒÈ

13. dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

14. dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

15. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

16. (Luqman berkata): “Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui.

17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

18. dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

19. dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Beberapa ayat diatas bisa dijadikan pelajaran bagi kita umat Islam untuk membangun “generasi tauhid” dengan menanamkan nilai-nilai yang dituntunkan oleh para Nabi, diantaranya sebagai berikut:

  1. Menanamkan kuat-kuat dalam jiwa generasi muda tentang ketauhidan dan aqidah.
  2. Meyakinkan pada generasi muda bahwa Islam adalah agama yang benar di sisi Allah.
  3. Mengajarkan generasi muda untuk  berbuat baik (hormat) kepada kedua orang tuanya
  4. Mengajarkan generasi muda untuk pandai busyukur pada Allah SWT
  5. Melakukan tauladan yang baik dan benar bagi orang tua kepada generasi muda
  6. Menanamkan pada diri generasi muda untuk senang beramal sholeh
  7. Meyakinkan pada generasi muda bahwa shalat merupakan syariat yang bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT
  8. Meyakinkan pada generasi muda bahwa kesombongan dan keangkuhan adalah menjadikan manusia lupa diri dan akan mendatangkan malapetaka dan kehancuran
  9. Mengajarkan pada generasi muda tentang kesederhanaan bukan kemewahan, karena kemewahan sesungguhnya awal dari malapetaka dan kehancuran.

Demikian beberapa cara yang jika dilakukan oleh kita umat Islam maka insyaAllah akan terbangun “generasi tauhid” sebagai perisai dari malapetaka dan kehancuran. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan dan petunjuk pada kita, sehingga terhindar dari peristiwa “the lose generation” atau “generasi yang hilang”. Amin ya rabbal’alamin.

[1] Tulisan ini diambil dari beberapa makalah yang berjudul:” Menuju generasi berdaya dengan aturan Islam,” dan “Membangun generasi Rabbani”. Juga diambil dari buku yang berjudul: “Malang nian orang yang tidak shalat” serta dari Al-Qur’an Terjemah.

 

naksah Khutbah Idul Fitri di PR Muhammadiyah Godog 1430H


Tags: artikelkhutbah
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori : naskah khutbah

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website